Strategi Pemindahan Ibukota untuk Naikkan Pertumbuhan Ekonomi?

Dapat diindikasikan bahwa tujuan pembangunan ibukota baru ini adalah upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang memang trendnya menurun.

Dengan adanya pembangunan infrastruktur ini diharapkan akan mempunyai efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi yang dipicu peningkatan permintaan ke beberapa industri bahan bangunan seperti baja & alumunium, semen, pasir, pipa dan industri yang berkait dengan itu, termasuk di dalamnya penurunan tingkat pengangguran pada angkatan kerja produktif.

Mengejar pertumbuhan ekonomi dengan cara ini sebenarnya tidaklah salah namun punya banyak kelemahan.

Kelemahan nyata yang terlihat adalah pertumbuhan ekonomi seperti ini hanya baik di angka di atas kertas namun pada kenyataannya tidak akan bisa mensejahterakan rakyat secara luas.

Mengapa ? bisa dilihat dari siapa saja yang diuntungkan atas pembangunan seperti ini , apakah nilai tambah yang diharapkan dengan pembangunan ini apalagi bila pembangunannya diserahkan dengan sistem turn key project, dengan mengundang investasi asing.

Sebagai kontraktor maka tentu akan memilih cost of production yg murah meriah baik dari sisi bahan maupun tenaga kerja. Itu berarti bahwa untuk pembangunan infrastruktur modern ini lebih pada padat modal daripada padat karya.

Disamping Itu berarti juga adanya pilihan untuk mencari bahan baku, peralatan dan tenaga kerja, Bila lokal murah maka dipakai lokal. Bila impor lebih murah maka dipakai bahan peralatan dan tenaga kerja impor. Artinya akan hanya menguntungkan bagi pihak kotraktor yg bisa menekan biaya pembangunan semaksimal mungkin.

Dampaknya bisa dilihat bahwa tenaga kerja lokal akan terabaikan. Lebih memilih tenaga kerja impor seperti selama ini dilakukan untuk proyek infrastruktur di Indonesia yg dilakukan oleh kontraktor asing asia ( baca : china)

Hal kedua, pemasukan pajak yang diharapkan karena peningkatan nilai asset akibat adanya pembangunan itu hanya didapat setelah pembangunan infrastruktur selesai. Artinya juga selama pembangunan infrastruktur ini belum selesai maka pajak yg diharapkan dari peningkatan nilai asset tidak akan tercapai , terlalu lama dan beresiko tinggi. Demikian pula terhadap nilai manfaat lain yang diharapkan dari pertumbuhan kota.

Resiko utama yang membayangi adalah mangkraknya pembangunan karena ketiadaan dana atau keterbatasan dana penyelsaian proyek sebesar itu.

Sementara bila pembangunan itu dibiayai utang, maka kewajiban bunga utang tetap diperhitungkan dalam pembayaran anggaran pun bila proyek mangkrak, , maka otomatis meningkatkan beban anggaran, berdasarkan kurs valuta karena pembiayaan ini melibatkan mata uang internasional.

Disamping kedua hal itu maka siapa lagi yang diuntungkan ? adalah para spekulan dan developer real estate di seputar pembangunan infrastruktur utama. Peningkatan nilai asset ini hanya berdampak sangat besar bagi mereka. Terutama penjualan sahamnya di pasar saham.

Namun bila pembangunan tidak selesai maka saham itu akan anjlok total bahkan mendekati nol. Seperti yang terjadi di proyek reklamasi.

Pengembang tidak akan rugi, karena sahamnya sudah terjual, namun masyarakat yang terlanjur membeli yang akan menanggung rugi karena penurunan asset. Demikian pula bilapun sudah jadi dan malah terjadi bubble real estate maka kerugian serupa akan ditanggung masyarakat juga. Bukan developer.

Siapkah pemerintah sekarang ? Tentu tidak siap tapi apakah mereka memikirkan itu ? mereka hanya berkuasa lima tahun, dan apakah mereka akan peduli dan mau mempertanggung jawab mereka setelah lima tahun ? tentu tidak.

Yang penting dalam masa pemerintahan mereka, mereka telah bisa menunjukan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang ditunjukan oleh angka angka grafik sebagai catatan sejarah mereka saat berkuasa.

Tidak penting bila kemudian masyarakat akan sengsara kemudian. Belum lagi kita bicara ekologi lingkungan yang dirusak akibat pembangunan ini yang nilai rehabiitasi kembalinya menggerus anggaran dan bisa me nol kan keuntungan pajak yang diharapkan diterima

Di sisi antropologi budaya, siapkah suku suku sekitar, masyarakat lokal menerima perubahan besar besar an ini ? Apakah pembangunan ini akan menimbulkan gesekan2 baru akibat kecemburuan social ? ini yang perlu dikaji juga lebih dalam.

Sekian tambahan catatan tentang pemindahan ibukota. uSemoga dipertimbangkan dengan seksama baik burknya secara detil…Peace..

Adi Ketu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.