Pemangku Negaraku Tercinta… Bijaklah..

Cerita bapakku dulu ….

Dulu bapak termasuk dalam Kontingen Pasukan Indonesia PBB kontingen Garuda IV ke Saigon, Vietnam.

Selama 6 bulan bapak berada di medan perang. Ketika pulang tugas, bapak dapati 4 anaknya (termasuk diriku) tergantung di rumah sakit kena DBD, karena pada waktu memang terjadi pandemic Demam Berdarah (DBD).

Bapak tak punya uang untuk tebus infus yang harganya mahal sekali, bahkan tak terjangkau untuk seorang perwira berpangkat kapten pada waktu itu.

Cerita bapak padaku..

Sambil berjalan di lorong Rumah Sakit dr Mintohardjo ,Bendungan Hilir, beliau berkali kali usap air mata sambil berdoa pasrah….Ya Allah kalo anak anakku mau Engkau ambil , aku ikhlas, cuma tolong sisakan satuu saja ….
untuk mainan…
Tujuan beliau cuma satu, menghadap komandan malam itu , untuk pinjam uang bagaimanapun caranya..

Singkat kata, niat itu tak terlaksana… karena entah doa beliau didengar Allah atau entah kebetulan, di ujung lorong depan menuju keluar pintu rumah sakit, beliau bertemu kolega, rekan sejawat yang anaknya juga terkena DBD. Namun ternyata rekan beliau kelebihan infus yang sudah dibeli.. Dan infus itu diberikan gratis ke pada bapak.. Alhamdulillah..

Setelah anak anak membaik, walau belum boleh pulang, Beliau harus berangkat lagi ke Saigon, Vietnam bergabung dengan Pasukan PBB Kontingen Garuda V Indonesia.

Maksud cerita pengalaman bapak yang diceritakan padaku ini adalah agar sudilah kiranya pemangku kepentingan memperhatikan kondisi kesehatan anak anak semaksimal mungkin di masa pandemic corona ini.

Tak akan ada orang tua manapun yang rela kehilangan anaknya, bahkan bagi seorang tentara yang tak takut mati pun, termasuk bapakku yang harus berkali kali berangkat ke medan tugas dengan membawa panji kehormatan Ibu Pertiwi, bisa terisak melihat anaknya tergolek tak berdaya di rumah sakit.

Bagaimana negara bisa menjamin bahwa anak anak tidak terjangkit coronavirus, bila sekolah dasar dan menengah terus dipaksakan dibuka dan tidak ditunda sampai badai pandemic corona mereda?

Bahkan tak ada seorang dokter atau siapapun yang bergerak di lembaga kesehatanpun di Republik ini yang setuju untuk pelonggaran kondisi yang berakibat buruk bagi anak anak kita semua?

Apakah negara akan bertanggung jawab bila anak-anak kita semua kemudian terjangkit dan kemudian paling parah kemudian meninggal dunia? anak anak bukanlah sebaris angka, dia adalah bunga masa depan negara dan bangsa…
jangan sampai mereka menderita karena kebijakan kita sebagai orang tua…

Apakah pemangku kepentingan akan berani tepuk dada dan tanggung jawab atas reaksi kemarahan ataupun mungkin balas dendam orang tua yang anaknya sakit atau meninggal dunia karena pandemic corona? Apakah para pemangku kepentingan negara sekarang akan bersikap sebagai musuh bagi rakyatnya sendiri?

Bijaklah..tunda sampai badai pandemic mereda… hanya itu yang bisa kukatakan.. Sekian

Adi Ketu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.