Memahami Asimetric Warfare dari Sudut Taktik Salami Slice dan Taktik Kubis

Tanggapan Adi Ketu, pengiat isu internasional, atas Artikel M Arief Pranoto: “Isu Kebohongan Covid-19: Peperangan Narasi di Level Agenda?”

Dalam ‘The Third Wave‘, Alvin Toffler menjelaskan bahwa terdapat tiga gelombang peradaban manusia. Gelombang pertama adalah gelombang agraris, gelombang kedua adalah industri dan gelombang ketiga adalah informasi.

Bila dikaitkan status penulis yang saya bagikan ini maka dunia informasi baik maya atau nyata adalah medan perang terkini. Baik berupa informasi untuk saling mengungguli maupun bloking informasi satu sama lain.

Mengenai narasi, ditinjau dari sudut geopolitik sebagai sebuah ruang, maka dunia informasi pun tak lepas dari kekuatan kekuatan yang bertarung demi keunggulan.

Narasi bila dianggap sebagai senjata dalam perang modern maka adalah upaya menduduki sebuah ruang. Dan ini tentu tidak bisa dilepaskan tanpa strategi tertentu.

Ketika 100 orang diseputar target berkata baik dan percaya tentang sesuatu maka target punya kemungkinan akan terpengaruh untuk mengatakan baik dan percaya, walau tadinya berkata tidak baik atau tidak percaya. Ini dalam strategi dinamakan strategi kubis (cubic strategy), sebuah upaya pendudukan.

Namun bila narasi yang bertentangan sama kuat maka yang dilakukan adalah taktik salami slice, mengiris bidang bidang dari sudut terluar atau sudut terlemah. Artinya audiens yang dituju adalah audiens yang awam, kemudian melangkah ke dalam secara bertahap.

Memberikan narasi pada kaum professional diluar ekspert pada bidang yang dituju, melangkah lagi pada pejabat yang bisa dipengaruhi dan akhirnya mengepung narasi dari berbagai sudut untuk mengubah pendapat secara umum. Setiap tahapan pengirisan salami ini memperhitungkan kondisi demi kondisi yang memungkinkan melepaskan di saat yang tepat agar berhasil.

Tim horee yang bergerak laksana bola salju digunakan untuk memperkuat kekuatan senjata narasi baik taktik kubis maupun taktik salami slice.

Taktik bukan untuk taktik. Strategi bukan untuk strategi. Keduanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan. Jadi penebaran isu dan tema untuk memuluskan agenda ini sebenarnya menurutku penerapan penggunaan taktik salami slice dan taktik kubis.

Salami slice diawal melalui isu yang ditebar kepada audiens atau beberapa audiens untuk membangkitkan perhatian yang berakhir penjalanan agenda yang dituju.
Penggunaan strategi kubis bila diketahui bahwa isu ini menguat dan menjadi tema tertentu yang harus diselesaikan sehingga agenda ini juga bisa dijalankan.

Kedua taktik ini tergantung kondisi di lapangan. Bahkan barisan sakit hati atau kelompokcari panggung pun ini adalah bagian dari strategi menebar jaring dan potensi untuk lakukan taktik salami untuk mendapatkan audiens yang akan digarap tahap berikutnya untuk meraih sebuah kemenangan.

Sekian

*Catatan ini dimuat juga di The Global Review

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.