Siapa Jendral Perang Ekonomi Indonesia?

Perang masa kini setelah berakhirnya Cold War bukanlah lagi perang di ranah militer. Namun perang di ranah lain, dan utamanya Perang Ekonomi.

Di Indonesia pernah ada tokoh Jendral Yang Tangguh dalam Perang Militer sekaligus Jendral Tangguh di Perang Ekonomi, walau akhirnya tumbang dihajar para pengkhianat pasukan ekonomi nya sendiri. Namanya Soeharto. Belum ada lagi.

Di masa sekarang, Siapa Jendral Perang Ekonomi yang bisa memimpin, mempunyai stratagi dan taktik yang jitu untuk membawa Panji Kemenangan Ekonomi Republik ini?

Kami sudah lelah jadi bangsa yang kalah. Namun kami belum lihat ada Jendral Ekonomi yang mumpuni yang ada di Indonesia lagi.

Yang banyak para Calo berdasi. Kelas Pencopet dan Pencuri. Atau numpang hidup dari remah remah roti yang disisakan Negara Pemenang Perang Ekonomi.

Apakah tidak malu dengan Singapura? negara kecil di Asia Tenggara, penduduknya sedikit, luas wilayahnya cuma sedikit lebih luas dari Jakarta, tapi punya Jendral Perang Ekonomi yang tangguh, sehingga Singapura yang kecil itu bisa jadi salah satu negara pemenang perang ekonomi dan menjadi negara ekonomi termaju di Asia Tenggara? juga menjadi negara dengan pendapatan penduduk per kapita nya tertinggi ketiga di dunia?

Atau apakah tidak malu dengan Brunei Darussalam luas wilayahnya yang cuma sepertujuh dari luas Jawa Barat tetapi termasuk urutan ke lima negara terkaya dari 182 negara di dunia?

Padahal, setiap wilayah di Indonesia dibekali oleh Sang Maha , modal kekayaan ekonomi yang luar biasa, bahkan ada emas di setiap pulau besar Indonesia. Namun faktanya sebagian besar wilayah masih miskin, tidak bisa mandiri.
Karena kekayaan ekonomi nya sudah dirampas, entah dicopet oleh calo berdasi atau dicuri oleh para pencuri yang bertebaran seantero negeri.

Banyak bintang Maha Putera diberikan, namun faktanya sumbang hasilnya belum ada. Fakta pendapatan per kapita nya tetap jeblok alias rakyatnya miskin.

Bukan salah rakyat. Tetapi karena memang tidak ada Jendral Ekonomi yang bisa pimpin, atur strategi dan hasilkan kekayaan. Mau dibungkus dengan segala pujian apapun faktanya memang demikian.

Berderet utang untuk membangun negeri. Namun habis hanya sia sia. Pemimpin bersikap globalis. Menumpuk kekayaan hanya untuk diri. Tak peduli negara bagkrut. Karena bila kekayaan sudah mencukupi tapi negara bangkrutpun dengan mudah bisa berganti warga negara dan hidup tetap nyaman.
Tapi rakyat diminta bersikap nasionalis. Lindungi halaman rumah, ketika para pencuri malah diundang untuk merampok negeri. Ribuan ijin tambang rakyat dihambat. Tapi asing dimudahkan untuk investasi masuk untuk keruk kekayaan negeri.

Ribuan hektar hutan dan lahan gambut sudah dibakar perusahaan investor, namun rakyat setempat yang disalahkan. Padahal kebijakan melepas perlindungan hutanlah yang memungkinkan pembakaran. Hutan hijau menjadi tandus atau ladang alang alang. Gudang air tanah menipis, bumi Indonesia makin panas, apakah ini salah rakyat setempat?

Ribuan hektar tanah dikuasai perusahaan multinasional, rakyat setempat diminta cukup puas sebagai buruh di lahan garap. Tanah yang tadinya milik dia dan garis keturunan nenek moyangnya terdahulu.

Sampai kapan harus demikian?

Aku rindu Jendral Ekonomi yang mumpuni yang bisa bawa Republik ini jadi punya muka ketika bergaul dengan bangsa lain.

Berani bicara keras karena ada isinya.. Sa ucap aya, sabukti nyata..

Bukan cuma bicara keras seperti katak yang bersaut sautan setelah hujan..

Adi Ketu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.