Carbon Credit sebagai Tulang Punggung Baru Pembangunan Ekonomi dan Sumber Keuangan Indonesia

  1. Isu Perubahan Iklim sudah jadi isu dunia sejak 1997. Dimulai dengan Protokol Kyoto dan Paris Agreement sampai tahun 2019 sudah didukung 195 negara di dunia.
  2. Indonesia sendiri telah meratifikasinya melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim)
  3. Pakta tersebut mewajibkan negara-negara industri untuk menurunkan emisi karbonnya, yang secara tidak langsung menuntut mereka untuk menganggarkan dana untuk program penurunan emisi karbon.
  4. Dalam jangka panjang, jumlah dana untuk penurunan emisi karbon negara-negara industri cenderung bertambah tiap tahunnya.
  5. Salah satu penyebabnya karena negara-negara industri mempunyai target untuk mencapai carbon neutral pada tahun 2050.
  6. Carbon neutral yaitu suatu kondisi di mana jumlah akhir emisi karbon untuk suatu periode dari suatu entitas bernilai 0.
  7. Hal ini terjadi ketika semua emisi karbon yang dihasilkan secara langsung maupun tidak langsung ternetralkan melalui aksi pengisolasian (carbon sequestration), penangkapan (carbon capture), dan pengurangan karbon (carbon offset).
  8. Dalam proses ini maka kendala perusahaan di negara industri adalah kekurangtersediaan lahan sebagai media pengisolasian, penangkapan dan pengurangan karbon.
  9. Maka itu perusahaan di negara negara industry maju membutuhkan ruang untuk menetralisir karbon yang dilepaskan akibat kerja mesin industrinya. Dan ini hanya bisa didapatkan dari negara dimana mempunyai ruang terbuka hijau, hutan dan laut yang masih ada di dunia sebagai media penetralisirnya.

Dan ini diperhitungkan dengan nama Carbon Credit.

  1. Tujuan utama dari adanya upaya Carbon Credit adalah untuk mengurangi jumlah dari emisi gas rumah kaca yang berbahaya ke atmosfer bumi, sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya perubahan iklim.
  2. Jadi Carbon Credit adalah izin atau sertifikat yang diberikan kepada suatu perusahaan atau organisasai, yang mana perusahaan tersebut dapat mengeluarkan CO2 atau gas rumah kaca lainnya dalam jumlah tertentu sesuai dengan regulasi yang telah ditentukan.
  3. Satu kredit dapat memungkinkan suatu perusahaan mengeluarkan satu ton emisi karbon dioksida.
  4. Batas tersebut akan terus berkurang secara berkala selama perusahaan tersebut mengeluarkan emisi.
  5. Apabila perusahaan telah melewati batas regulasi yang telah ditentukan (atau dikenal dengan istilah offset), maka mereka wajib menambah sertifikat atau izin apabila ingin terus beroperasi.
  6. Pertanyaannya adalah bagaimana solusinya bila harus menambah ijin atau sertifikat agar perusahaan bisa terus beroperasi?
  7. Ada dua cara
    a. Solusi pertama adalah dengan cara membeli sertifikat dengan perusahaan lain yang tidak dipakai. Tindakan tersebut dikenal dengan istilah “cap and trade”.

Cap and Trade merupakan bagian dari sistem CDM (Clean Development Mechanism), CDM dilakukan dengan cara membuat proyek ramah lingkungan di negara berkembang oleh perusahaan yang ingin menambah jatah sertifikatnya.

Misalnya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga angin (bayu ) yang ada di empat desa Sumba NTT (2013) dan PLTB yang ada di Sidrap Sulsel, Indonesia (2018).

Perusahaan yang telah berkontribusi dalam membantu membuat proyek ramah lingkungan akan diberi dengan sertifikat yang dapat digunakan untuk menambal offset.

b. Solusi kedua yaitu dengan skema REDD+ yang memberi kesempatan korporasi menginvestasikan dana mereka untuk ikut melestarikan dan mencegah terjadinya kerusakan hutan di negara berkembang penghasil karbon.

Bagi perusahaan yang berhasil atau sukses melestarikan dan menjaga hutan, akan diberi tambahan jatah kredit karbon atau sertifikat.
Misalnya yaitu kawasan REDD+ yang ada di Indonesia, yaitu Katingan Mentaya Project.

Proyek tersebut diminati oleh berbagai perusahaan yang ada di dunia yang ingin menambah jatah kredit karbon mereka, seperti perusahaan migas SHELL serta pabrikan otomotif Volkswagen, danBNP Paribas yang menjadi client bisnis PTRimba Makmur Utama (pengelola Katingan Mentaya Proyek).

  1. Bagi Indonesia dengan adanya kesadaran pentingnya menjaga iklim dan adanya kepakatan dunia akan carbon neutral demi membendung terjadinya perubahan iklim yang merugikan rakyat di seluruh negara dunia , maka justru menjadi peluang besar untuk meningkatkan pendapatan negara dan rakyatnya.

Mengapa demikian?

  1. Indonesia adalah salah satu diantara sedikit paru paru dunia,yang mempunyai salah satu cadangan kredit karbon terbesar di dunia. Dalam bahasa ekonomi Indonesia dalam posisi supply sementara negara industry dalam posisi demand.
  2. Potensi Cadangan Credit Carbon di Indonesia ada dua yaitu di darat dan di laut
    a. Potensi Cadangan karbon Hutan merujuk pada keterangan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia sebesar 5,5 giga ton ekuivalen.
    b. Sementara menurut Alongi, Mudiyarso, et. al. (Wetlands Ecology and Management. Along, 2016), potensi karbon biru di laut Indonesia mencapai 3.4 Giga Ton (GT) ekuivalen, yaitu sekitar 17% dari karbon biru dunia..

Dari kedua bidang ini , Total potensi carbon credit Indonesia = 8.9 Giga ton ekuivalen

  1. Saat ini kisaran harga credit carbon ini diperdagangkan US$ 0,2 – US$ 112 per ton.
    Kita ambil rata rata US $ 20 dengan kurs 1 US$ = Rp.14.500,-

Dengan perhitungan
1 Gigaton [Gt] = 1 102 311 310 Ton (pembulatan ke bawah) maka didapat 9.810.570.659 ton x $ 20 = $ 196.211.413.180 x 14.500
= Rp. 2.845.065.491.110.000 /tahun
= 2,8 kuadriliun /tahun =

  1. Perhitungan ini malah jauh lebih besar dari perhitungan yang diumumkan pemerintah dimana potensi cadangan kredit carbon Indonesia yang bisa diperdagangkan hanya Rp.350 Triliun – Rp.435 Triliun saja.

Nilai Carbon Credit inipun setiap tahun akan meningkat. Bagaimana bila nilainya $30, $40 hingga $112/ton ekuivalen.

  1. Patut dicatat pula saat ini, negara-negara dunia yang sudah melakukan perdagangan karbon dalam bursa diantaranya antara lain negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Jepang.

Dengan bursanya antara lain, European Climate Bursa , NASDAQ OMX Komoditas Eropa , PowerNext, Commodity Exchange Bratislava, Bursa Energi Eropa, Carbon Trade Exchange, Chicago Climate Bursa.

  1. Apa nilai tambah lainnya dengan ekonomi dan energy hijau?
    a.Ketika wilayah di luar Indonesia menjadi “Neraka” maka Pariwisata berbasis Nature layaknya “Surga” menjadi incaran wisatawan mancanegara dan wisatawan kesehatan. Otomatis angka pendapatan negara dari sektor pariwisata akan meningkat.

b. Penggunaan energi angin ,mikrohidro,gelombang laut dsb sebagai sumber energy sekaligus penggantian energy fosil menjadi energy terbarukan akan menambah besar potensi kepemilikan cadangan kredit karbon

c. Di Laut: Dengan perbaikan habitat laut dengan perburuan ikan berkala dan ketat bagi nelayan maka ikan tangkapan menjadi lebih berat dan otomatis pendapatan nelayan makin besar. Variasi dari hasil laut dan pesisir pantai adalah peternakan kerang mutiara,rumput laut, dsb.

d. Penggunaan energy hijau melalui paparan gelombang laut di selatan Indonesia yang belum dimanfaatkan , maka menambah lengkap potensi peningkatan kredit karbon Indonesia
dan masih banyak potensi lain yag bisa digali

  1. Apakah ini berarti tidak akan ada industri atau pembangunan di Indonesia akibat perlunya menjaga ketertutupan lahan konservasi dan kelestarian laut?
  2. Tidak demikian, Indonesia tetap bisa membangun namun selalu memasukan perhitungan nilai laba rugi dengan memasukan nilai lingkungan di dalamnya. Karena pembangunan bersih berarti peluang mendapatkan keuntungan dari perdagangan karbon.
  3. Perhitungan ini demikian ketat dan diperlukan pembangunan kesadaran dan perubahan pola pikir antara keselarasan pembangunan dan lingkungan.

18.Dengan kondisi demikian, maka setiap orang, lembaga dan perusahaan baik negeri maupun swasta yang bergerak dalam upaya menjaga kelesarian lingkungan sekitarnya akan mendapat kompensasi dana langsung dalam bentuk nilai nominal yang cukup besar.

Termasuk didalamnya petani, masyarakat desa, masyarakat di sekitar hutan, petani, masyarakat nelayan dan wilayah kabupaten,propinsi yang bisa meningkatkan cadangan carbon creditnya.

  1. Apakah dengan potensi yang demikian besar akan disia siakan Indonesia?
  2. Tentu tidak. Maka itu agar lebih kredibel di mata dunia , langkah strategis Indonesia adalah memetakan potensi cadangan karbon Indonesia secara lebih detail dan akurat sehingga bisa dipercaya dan layak diperdagangkan di sau sisi. Di sisi lain memetakan kerusakan dan mengalakan upaya konservasi lahan kritis.
  3. Maka itu alangkah anehnya ketika ada kebijakan yang malah membebaskan ijin tambang seumur tambang, yang bukan hanya berpotensi memandulkan program ekonomi hijau namun membuat Indonesia kehilangan potensi keuntungan dari ekonomi hijau, karena tidak memberikan kesempatan konservasi lahan. Semoga peraturan semacam ini bisa diubah kembali.
  4. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa bila dulu energi fosil minyak bumi yang dijadikan tulang punggung pembangunan Indonesia, sekarang, dengan berubahnya jaman maka Carbon Credit lah yang bisa menjadi tulang punggung Indonesia bahkan jauh lebih kuat.

Akhirnya semoga Indonesia bisa makin maju ke depannya dan aku hanya bisa mengajak anak bangsa dan semua pihak agar fokus memanfaatkan potensi anugerah Sang Maha untuk negeri ini..Jangan malah tengkar terus karena rebutan sisa tulang dan recehan..

…Come on Wake up Indonesia….

Adi Ketu

Note: tulisan ini hanya awal untuk gugah kesadaran dan ada skema skema lain perdagangan karbon yang masih bisa didalami lebih lanjut mekanismenya.

Sumber Referensi: Berbagai sumber

Adi Ketu

Note : tulisan ini hanya awal untuk gugah kesadaran dan ada skema skema lain perdagangan karbon yang masih bisa didalami lebih lanjut mekanismenya.

Sumber Referensi : Berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.