Solusi Memenuhi Kebutuhan Beras Di Setiap Rumah Tangga Perkotaan Secara Mandiri

Bagi orang desa, beras tidak laku dijual akan dimakan sendiri. Gabah dikeringkan dan digunakan untuk ketahanan pangan keluarga.

Jadi sebenarnya bagi orang desa, baik yang punya sawah yang bekerja sama dengan petani penggarap, tidak ada yang dirugikan, semua senang.

Yang ribut adalah orang orang yang tinggal di perkotaan. Yang memang tidak memiliki sawah untuk ditanami padi dan hasilkan beras.

Memang beras sebagai logistik utama bangsa Indonesai walau jadi masalah bertahun tahun, namun belum ada solusi tuntas. Pertanyaannya adalah apakah orang orang di perkotaan, serius bersedia mendapat pangan berupa beras?

Bila memang demikian halnya, alangkah baiknya bagi orang orang di kota membuat jaringan pangan bersinergi dengan para petani atau kelompok tani di desa.Plus yang punya penggilingan padi.

Gambaran paling mudah adalah pengadaan kambing saat Idul Idha. Orang kota membeli kambing langsung ke desa. Atau membeli kambing kecil kemudian di besarkan yang hasilnya dibagi antara pemlik kambing dan peternak di desa sebagai pemelihara. Pola seperti ini sebenarnya bisa diterapkan pada makanan utama yaitu beras.

Orang-orang di kota membuat lembaga mandiri, dan berkomitmen untuk membeli beras yang dihasilkan oleh petani.
Sinergi seperti ini sudah dilakukan di Jepang dengan nama TEIKEI. Ini patut dicontoh dikembangkan. Apa yang terjadi kemudian?

Masyarakat di perkotaan, tidak perlu lagi mengandalkan pasar konvensional. Mereka mendapat “jatah” dari desa. Murni dan tanpa bahan campuran. Mau?

Jadi sebenarnya ini masalah mau atau tidakkah orang orang di kota, berkoordinasi dalam satu kompleks, satu RW, untuk mengakomodir kepentingannya sendiri?

Bila dulu seperti jaman kecil saya dulu yang hidup di kompleks tentara, ada beras jatah 50 kg untuk satu keluarga yang dikelola oleh koperasi angkatan. Ada gudang beras di dalam perumahan untuk dibagikan ke warga setiap bulan.

Mengapa pola seperti ini tidakdilakukan untuk masyarakat umum di kompleks-kompleks perumahan, atau penggabungan menjadi anggota lembaga mandiri bagi yang tidak tinggal di kompleks perumahan. Bukankah ini sangat mungkin?

Dan sebaiknya para pengurus lembaga pengadaan beras juga adalah tetangga sendiri, jadi layak untuk dipercaya karena kemungkinan kecil terjadi penyelewengan karena untuk kepentingan bersama dan sanksi social tetangga jauh lebih berat daripada sanksi lainnya.

Bila hal ini dilakukan maka kecil kemungkinan terjadi turunnya harga di tingkat petani, karena semua sudah terserap di kota kota, mengurangi tengkulak beras, meningkatkan gairah petani untuk meningkatkan hasil taninya, mencegah peralihan petak sawah menjadi perumahan dan juga menyerap pengangguran.

Disisi lain orang orang di kota mendapatkan beras dengan kualitas baik dan bisa atasi permainan pedagang. Beras menjadi bukan lagi komoditi dagang untuk untungkan sebagian kecil orang tapi barang kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan membuat semua orang senang.

Untuk mengulas lebih jauh bagaimana pola yang kumaksud sebenarnya, saya sudah mengulas dalam dua tulisan.

  1. Mengenal TEIKEI – Alternatif Pemasaran Hasil Pertanian sebagai Bahan Ajar Indonesia
    https://web.facebook.com/adi.ketunew/posts/133289501901597
  2. Coretan kecil Solusi Atasi Pengangguran Melalui Pembentukan Lembaga Sangga Hasil Tani
    https://catatanadiketu.wordpress.com/…/coretan-kecil…/

Sisa kebutuhan yang belum terpenuhi itu baru kemudian melibatkan BULOG, pedagang di pasar dan yang lainnya. Jangan terbalik. Masalahnya adalah maukah untuk diberdayakan? Semua tergantung komunitas orang orang di perkotaan itu sendiri. Ga perlu terlalu mengandalkan pemerintah. Cape..

Sekian

Adi Ketu

Satu tanggapan untuk “Solusi Memenuhi Kebutuhan Beras Di Setiap Rumah Tangga Perkotaan Secara Mandiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.