Tentang Neocortical Warfare

The target of all human conflict, the battleground of all conflict resolution, is the human mind. In reframing all conflict as one form of warfare or another, neocortical warfare rejects the notion that warfare is an aberration. It accepts that conflict will never end and that we must invest resources to win its endless engagements.” – Richard Szafranski

Peperangan adalah serangkaian aktivitas yang mematikan dan tidak mematikan yang dilakukan untuk menaklukkan “keinginan” musuh yang bermusuhan.

Intinya, peperangan tidak membutuhkan deklarasi perang juga tidak membutuhkan adanya kondisi yang secara luas dikenal sebagai “keadaan perang”. Peperangan bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki agenda, baik itu individu atau organisasi.

Apa itu Perang Neocortical?

Peperangan neocortical adalah bagian dari informasi & operasi psikologis. Ini adalah peperangan yang berusaha untuk menaklukkan “keinginan” musuh dan memenuhi tujuan politik dan militer tanpa kekuatan.

Tujuannya untuk mengontrol, membentuk dan bahkan mengatur perilaku organisme musuh, tetapi tanpa membunuh organisme tersebut. Pendekatan untuk target perang ini dengan cara “mempengaruhi” musuh dan “persepsi” dan “wawasan” nya.

Secara nyata berusaha untuk mengetahui dan memahami budaya, nilai-nilai, bahasa verbal dan non-verbal, sintaksis mental dari subjek yang ditargetkan. Menargetkan dan memanipulasi pola pikir musuh adalah tujuannya.

Dalam mengetahui apa yang dinilai musuh dan menggunakan pandangan musuh sendiri tentang dunia dan atau sintaksis mental.

Peperangan neocortical akan membentuk kesan, persepsi, dan mempengaruhi inisiatif dan tanggapan musuh di mana dengan lingkaran OODA – Observe, Orient, Decide, and Act musuh (Pengamatan, Orientasi, Keputusan, dan Tindakan) akan terus-menerus ditunda, dirusak dan digantikan oleh perilaku yang lunak dan reseptif terhadap agenda yang berlawanan.

Siapa Sasarannya?

Sasaran perang neocortical adalah kepemimpinan politik negara musuh, pembuat kebijakan, pemimpin militer.

Dalam peperangan neocortical, situasi atau skenario dapat dimanipulasi dan dibuat untuk membuat “sistem target atau kepemimpinan” melihat krisis yang rumit dan terus-menerus.
Kemudian sebuah “jalan atau solusi” yang juga telah dibuat sebelumnya oleh musuh akan disajikan dengan “cara yang licik-halus.”

Hasil akhirnya adalah para pemimpin yang bersedia untuk tunduk, berubah atau bersujud pada agenda musuh karena ketakutan, merasakan berbagai konsekuensi dan bahkan merasakan manfaat “kejahatan yang lebih rendah”.

Keterampilan tertinggi dan ciri khas dari Neocortical Warfare

Ciri dan tanda kunci sukses, adalah ketika “individu atau bangsa yang ditargetkan” memilih alternatif non-pertempuran/tanpa perlawanan secara sukarela bahkan tanpa kesadaran bahwa itu adalah produk dari operasi neokortikal.

Contoh paling sederhana adalah penyuapan yang membuat orang yang terima suap lebih dekat kepada pemberi suap. Dan suap tidak hanya uang, bisa juga hal lain yang menyenangkan penerima suap sehingga berubah pikirannya.

Karena kemajuan teknologi kemudian ditemukan bahwa tidak hanya suap saja jalan untuk mengubah cara berpikir orang. Berbagai teknik dapat dikembangkan yang dapat mencapai tujuan sama.

Perang Neocortical dalam Sejarah

Dalam sejarah, seperti yang diungkap Jend (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhanas, WAKASAD dan Dubes Jepang) dalam artikelnya Mewaspadai Perang Neocortex Amerika dan Cina yang dimuat di blog beliau 28 November 2016 bahwa cara perang Neocortical mulai digunakan pemimpin Jerman Adolf Hitler pada tahun 1930-an ketika ia berambisi menguasai Eropa. Hasilnya Hitler pada tahun 1938 berhasil menundukkan Austria tanpa penggunaan kekerasan.

Hitler pula yang mengembangkan tindakan penetrasi ke negara-negara Eropa Barat tanpa kekerasan dengan apa yang oleh pihak lawannya di Barat disebut kolonne kelima dan kemudian berkembang menjadi istilah subversi yang sekarang lazim digunakan.

Cara Perang Neocortical terutama tertuju kepada pimpinan pihak yang diserang. Sedangkan Kolonne Kelima dengan jalan propaganda mempengaruhi masyarakat lawan.

Hanya saat itu Hitler masih gunakan tindakan kekerasan untuk menguasai Eropa Barat, meskipun cara perang neocortical dan kolonne kelimanya sudah berhasil mempengaruhi dan melemahkan masyarakat Eropa Barat.

Keberhasilan cara berperang baru itu kemudian dibuktikan dengan runtuhnya negara-negara Eropa Barat satu persatu dalam waktu singkat. Bahkan Perancis yang dalam Perang Dunia I mengalahkan Jerman dapat dikalahkan dalam kampanye yang hanya berlangsung tiga minggu. Hitler baru gagal ketika hendak merebut Inggris.

Cara Perang Neocortical dan subversi ini kemudian juga diambil Uni Soviet dan diterapkan dalam ambisi Josef Stalin dan Partai Komunis menguasai dunia setelah memenangkan Perang Dunia II.

Amerika Serikat relatif lambat dalam penggunaan cara baru itu, karena cenderung terlalu menitikberatkan pada keunggulan teknologi militernya serta kekuatan pembiayaan.

Baru setelah menyadari bahwa perang modern perlu pembiayaan amat besar, apalagi mengalami kegagalan seperti di Vietnam yang membuktikan bahwa keunggulan teknologi bukan segalanya, para pakar AS mulai menyadari pentingnya cara berperang tanpa kekerasan, khususnya perang neocortical.

Tidak mustahil pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev salah satu korban perang neocortical AS.

Setelah memenangkan Perang Dingin AS melancarkan offensif tanpa kekerasan besar-besaran untuk menguasai dunia.

Kekurangberhasilan operasi militernya di Irak dan Afghanistan, padahal sudah dikeluarkan biaya amat besar dan dikorbankan banyak pemudanya, membuat orang AS makin sadar bahwa teknologi dan kekuatan ekonomi bukan segalanya. Apalagi setelah ditimpa krisis ekonomi.

Sebab itu dapat diperkirakan bahwa Cara Perang Neocortical akan makin digunakan AS untuk mencapai tujuan-tujuannya dan memelihara dominasi dunia.

Faktanya China jauh dulu dan lebih mahir dan cekatan dari pada AS dalam melakukan Cara Perang Neocortical.

Dengan berpegang doktrin sun Tzu, mereka mengaktifkan sel sel perangnya baik buzzer Tentara 50 Cent, Wolf Wariornya dan juga jaringan media pro China.

Sun Tzu: Karena bertempur dan penaklukan dalam semua peperangan itu bukan Keunggulan Tertinggi; Keunggulan Tertinggi adalah mengalahkan perlawanan musuh tanpa bertempur.

Sepanjang pengamatanku China melakukan perang neocortical dengan tiga cara:
Pertama, melaui Program Panda yaitu Belt Silk Road, Maritim Silk Road, berpegang pada sisi sejarah peradaban yang dimanipulasi untuk kepentingan China sendiri.

Program ini kemudian diikuti dengan Digital Silk Road dan terbaru Health Silk Road plus bantuan Pinjaman langsung atau masuk melalui lembaga keuangan ventura.

Program lain melalui pendekatan budaya Konfusius. Juga menyamarkan sejarah dan menimbulkan kedekatan sejarah dan budaya pada negara target.

Kedua , dengan memposisikan diri sebagai bangsa teraniaya, permainan playing victim untuk menarik simpati.

Ketiga, mempropagandakan kekuatan militer China untuk menakut nakuti negara yang lebih lemah kekuatan militernya.

Bagaimana China membalikan pandangan dunia terhadap penindasan dan genocide melalui penyiksaaan dan pemandulan kepada kepada suku Uyghur ?Dan bagaimana China mengklaim wlayah kedaulatan negara lain di darat dan laut berdasar sejarah peradaban? Ini beberapa contohnya. Masih banyak caraperang neocortical yang dilakukan China.

Bagaimana dengan Indonesia?

Mental pemimpin yang selama ini menjadi incaran dari perang Neocortical ini, baik eksekutif dan legislatif.

Disadari pengawasan terhadap Korupsi Kolusi dan Nepotisme masih lemah dan mental dan integritas para pemimpin baik di pusat dan daerah yang masih dipertanyakan, maka dengan mudah kebijakan bisa dipengaruhi.

Kewaspadaan pada mereka-mereka yang bekerja bukan demi kepentingan nasional tapi menjadi agen didalam untuk kepentingan sang penyandang dana dan kepentingan memperkaya diri sendiri.

Ingat dana China itu besar, bisa membiayai segala keperluan satu kabinet beserta seluruh penghuni gedung legislatif.

Belum lagi serangan ideologi dan perang pemikiran yang berbungkus HAM, mereka akan berteriak pada kasus yang dianggap bisa melemahkan dan mengacaukan kita dari dalam atau istilah standard ganda pada kasus2 tertentu saja mereka berteriak.

Contoh pembunuhan aparat di Irian Jaya tidak terdengar suara HAM yang lantang berbeda dengan saat OPM terbunuh karena adanya kontak senjata dalam suatu operasi militer.

Oleh karena itu, saya sepenuhnya setuju dengan himbauan sesepuh TNI Jend (Purn)Sayidiman Suryohadiprojo , marilah kita sadar akan retorika pemimpin politik kita, perubahan kebijakan politik dan atau ekonomi yang tiba-tiba, arah dan atau strategi militer dan atau kekurangannya.

Dan mari kita proaktif dalam menyadarkan para pemimpin kita bahwa ada konsep dan metode seperti itu dalam melancarkan perang yang tidak dideklarasikan atau dilihat.

Sekian.

Adi Ketu

Sumber:

https://sayidiman.suryohadiprojo.com/?p=1705

https://sclgroup.online/…/neocortical-warfare-the-acme…

http://www.psr.jku.at/psr2002/11_3Byfor.pdf

http://kalatas.com.au/2019/08/04/enter-neocortical-warfare/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.