Kisah Jurnalis Senior menjadi Agen Intelejen Australia

Jurnalis sebagai mata mata bukanlah cerita baru.

Namun bila berhasil hingga menembus ring satu di berbagai negara tanpa kecurigaan negara target sampai akhir hidupnya ini yang istimewa karena tidak semua bisa.

Ini yang terjadi pada Petter Barnett, seorang jurnalis senior, penyiar radio dan koresponden asing media Australia, Asian Broadcasting Corporation (ABC).

Kedoknya sebagai agen mata mata Australia tidak tersingkap hingga meninggalnya pada Agustus 2020 lalu pada usia 90 tahun.

Selama hampir dua puluh tahun, Peter Barnett meliput urusan internasional dengan otoritas yang mudah dan akses ke kekuasaan yang menjadikannya teladan bagi generasi jurnalis penyiaran selanjutnya.

Kiprah Peter Barnett

Dibesarkan di Albany, Australia Barat, Barnett bergabung dengan ABC pada tahun 1961.

Ia bekerja di Asia Tenggara selama Perang Vietnam, meliput Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan pemerintahan Johnson, Nixon dan Carter di Washington.

Dia menghabiskan sembilan tahun sebagai direktur jenderal Radio Australia, yang menyiarkan berita berbahasa asing ke negara tetangga Australia.

Dia adalah salah satu jurnalis Australia dengan koneksi terbaik pada masanya, dan membantu ABC membangun kredibilitasnya sebagai organisasi media yang dihormati di Australia dan luar negeri selama masa kritis untuk diplomasi Australia.

Reputasinya di AS membuatnya mendapatkan satu-satunya wawancara televisi dengan Presiden Lyndon Johnson selama tahun terakhirnya yang penuh gejolak di kantor pada tahun 1968.

Bahkan Presiden ke-39 AS, Jimmy Carter, secara pribadi mengucapkan selamat tinggal padanya di kantor Oval ketika Barnett akan meninggalkan Washingon dan berangkat ke Melbourne pada tahun 1979.

Dia menghabiskan tiga tahun untuk meningkatkan peliputan pengaruh perang oleh Radio Australia, yang merupakan cara pemerintah untuk memproyeksikan pengaruh Australia di seluruh wilayah.

Stasiun radio gelombang pendek ABC menembus kontrol negara komunis yang berat terhadap media di seluruh Asia. Kantornya di Melbourne bahkan mendapat simpati dari ratusan pendengar di China setiap tahun.

Sebelum membangun reputasi di AS di tahun 1967, Barnett mulai membangun aksesnya dengan baik di Asia Tenggara sejak tahun 1961.

Presiden Vietnam Selatan kala itu, Ngo Dinh Diem, bahkan menawarkan Barnett akses tak terbatas ke seluruh wilayah Vietnam.

Barnett juga di tempatkan di Malaysia dan Indonesia. Menjadi telinga dan mata Australia ketika Presiden Indonesia Soekarno bermesraan dengan blok Soviet yang mencemaskan Canberra.

Dia bertemu dengan presiden wanita pertama Indonesia, Megawati Sukarnoputri, ketika dia berusia 15 tahun yang menampilkan tarian Jawa di istana presiden ayahnya Soekarno untuk menjamu Jaksa Agung AS Robert Kennedy pada tahun 1962.

Kontra Spionase Barnett

Dari buku yang ditulisnya sendiri, operasi kontra spionase juga dijalankan Barnet ketika dicurigai sebagai mata mata Australia di Jakarta.

Saat itu Barnett mencurigai sopirnya bekerja untuk dinas intelijen negara.

Orang Indonesia mencurigai biro ABC mengoperasikan pemancar radio rahasia untuk menghindari jaringan telepon milik negara.

Suatu hari, sekotak barang pecah belah dan peralatan makan tiba dari Sydney.

“Ada apa di dalamnya?” tanya sopirnya.

“Pemancar radio,” jawab Barnett.

“Kami semua berkumpul di dapur untuk membongkar kotak itu,” tulis Barnett dalam bukunya.

“Victor [pengemudi], yang biasanya menurunkan saya dan pergi, tetap tinggal, mengawasi dengan cermat.
Akhirnya, semuanya disingkirkan, kecuali seikat besar kemasan di bagian bawah.
Victor mencondongkan badan dan mengobrak-abrik kotak untuk memeriksa apakah ada tambahan ada di bawah. Mata kami bertemu, dan kami berdua tertawa. “

Bagaimana Petter Barnett direkrut sebagai agen mata mata Australia?

Sebelum menjawab pertanyaan itu maka perlu diketahui terlebih dahulu organisasi intelejen Australia itu terbagi dua dengan misinya masing masing yaitu ASIS (Australian Secret Intelligence Service) dan ASIO (Australian Security Intelligence Organisation)
Secara sederhana ASIO misinya memburu mata mata asing.

Sementara ASIS misinya merekrut mata mata untuk kepentingan Australia.

Itulah mengapa ASIS lebih tertutup dan rahasia tinimbang ASIO. ASIS baru diakui keberadaannya secara resmi oleh Australia di tahun 1977, 25 tahun setelah berdirinya.

Mengapa dinas intelejen senang merekrut jurnalis sebagai agennya?

Itu karena jurnalis, dengan kepiawaiannya bisa mendapatkan kepercayaan dari para pejabat setempat dan mengunjungi tempat-tempat yang dilarang untuk orang asing lainnya.

Biasanya jurnalis bagus dengan detail dan bisa berkomunikasi dengan jelas.

Indikasi perekrutan jurnalis menjadi agen mata mata juga dikuatkan oleh pernyataan William Reed, mantan intelejen ASIS di Timur Tengah.

Menurut Reed, sebelum adanya televisi 24 jam, kepribadian para pemimpin dunia benar-benar hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang bertemu mereka.

Dengan akses yang lebih tinggi dari beberapa diplomat, jurnalis adalah sumber yang menarik untuk badan intelijen dan beberapa bekerja dengan mereka dalam sebagian besar karir mereka.

Selanjutnya dengan kata kata Reed sendiri mengatakan
“Ada beberapa jurnalis yang pada dasarnya menjual jiwa mereka ke agensi,” katanya.

“Agensi-agensi mendapatkan banyak manfaat darinya. Satu telah diinfeksi dari sejumlah agensi selama beberapa tahun. Keuntungannya adalah mereka diberi akses ke orang-orang top, bahkan para pemimpin dunia.”

Demikian pula dengan Peter Barnett

Barnett memiliki bakat untuk membuat orang merasa nyaman.

Banyaknya waktu yang dia habiskan dengan para pemimpin politik memberikan lebih banyak informasi daripada yang dapat dia gunakan dalam laporan singkat di radio atau televisi.

Barnett bisa menulis laporan yang kredibel untuk ASIS yang menganalisis moral dan sikap para pemimpin sekutu militer terpenting Australia.

Catatannya bisa memberi ASIS keunggulan atas saingan birokrasinya ketika pemerintah Menzies memperdebatkan bagaimana terlibat dalam konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia, atau apakah akan mengikuti AS jauh lebih dalam terlibat di Vietnam.

Peter Barnett sendiri kemungkinan direkrut melalui hubungan persaudaraannya dengan Harvey Barnett, kakaknya, seorang agen senior ASIS di Singapura.

Pekerjaan Harvey adalah merekrut mata-mata untuk mengumpulkan informasi tentang rencana dan perilaku pemerintah asing.

Dalam jargon intelijen, dia adalah “petugas kasus yang mengkoordinasi agen”.

Peter Barnett tinggal bersamanya, dan kadang-kadang diminta untuk pergi ketika kontak datang, tulisnya dalam memoarnya.

Harvey, sendiri adalah mantan perwira cadangan Angkatan Laut Australia, yang menjadi kepala stasiun ASIS di Singapura, Kamboja, dan Vietnam Selatan,demikian menurut jurnalis Economist Robert Milliken, ketika mewawancarainya.

Sebuah stasiun ASIS biasanya mengoperasikan 35 hingga 40 mata-mata, setengah lusin di antaranya akan menjadi asset tambahan, menurut sumber intelijen.

Saat agen ASIS dirotasi, mereka akan menghabiskan waktu dua minggu untuk menyerahkan calon mata-mata.

Yang baru harus direkrut untuk menggantikan mereka yang pensiun, meninggal atau kehilangan akses ke informasi yang berguna. Jadi kemungkinan besar Peter Barnett direkrut menjadi agen ASIS di Singapura, bukan di Australia.

Harvey sendiri bekerja untuk layanan tersebut dari sekitar tahun 1957 hingga 1976, ketika ia pindah dari instansi sebelumnya, Angkatan Laut ke Organisasi Intelijen Keamanan Australia.

Atas rekomendasi Harvey, tahun 1961 Petter Barnet diperkenalkan kepada Ted Shaw,kepala regional ABC di Singapura dan mulai dipekerjakan disana sebagai penyamaran.

Buku Barnett, yang ditulis setelah Harvey meninggal, diakhiri dengan catatan tambahan dua halaman yang mengakui karier intelijen saudaranya.

“Saya menjadi sangat sadar akan perannya ketika saya tinggal bersamanya di Singapura selama tahun 1961,” tulis Barnett.

“Ada kalanya dia meminta saya keluar rumah karena sedang menunggu tamu. Suatu ketika, saat saya berkendara, saya melihat dua pria datang.
Beberapa tahun kemudian saya bertemu salah satu dari mereka di Jakarta.

Dia adalah seorang koresponden misterius Thailand untuk surat kabar yang belum pernah didengar siapa pun. Dia menghilang dari tempat kejadian tiba-tiba seperti saat dia muncul.”

Buku itu ditolak oleh semua penerbit besar dan akhirnya diterbitan Barnett sendiri dengan menggunakan uangnya sendiri.

Penyiar ABC Phillip Adams, yang telah direkrut ASIO sejak dia berusia 16 tahun, setuju untuk menulis kata pengantar.

Ditanya apakah menurutnya apakah Peter Barnett bekerja untuk ASIS, Adams berkata:

“Saya tidak akan terkejut sama sekali. Berkeliaran di seluruh dunia untuk ABC akan menjadi perlindungan yang sangat bagus.”

Secara kebetulan, mantan agen ASIS Warren Reed pernah menjadi manajer Barnett setelah mereka berdua meninggalkan layanan publik dan bergabung dengan Komite Pembangunan Ekonomi Australia, sebuah wadah pemikir yang telah lama berdiri.

Dua buku yang ditulisnya menceritakan sejarah panjang kehidupannya yaitu: Foreign correspondence – A journalist’s biography: tales from a life in Australia, Asia, and the United States of America and Guardian of the Flame: A book on Said Nursi.

Di akhir masa hayatnya, Barnett menjadi Anggota (AM) di Order of Australia Honors pada tahun 1991 atas jasanya untuk komunikasi publik.

Peter Barnett masuk Islam pada tahun 1994 dan merupakan anggota komunitas Muslim Victoria yang dihormati, melayani di Dewan Islam Victoria selama lebih dari satu dekade.

Agustus tahun 2020 kemarin, Peter Barnett meninggal dan dimakamkan di Melbourne di samping almarhumah istrinya Siti Nuraini Jatim, mantan penyiar Radio Australia dan penyair Indonesia.

Menanggapi laporan bahwa koreponden asing ABC Peter Barnett mungkin telah membantu dinas intelijen asing Australia pada 1960-an dan 70-an, mantan perwira intelijen angkatan darat dan Direktur Eksekutif sosiasi Pertahanan Australia Neil James mengatakan bahwa warga Australia yang memberikan informasi atau analisis kepada pemerintah mereka sendiri tidak dapat dianggap sebagai agen atau mata-mata.

Jurnalis dapat memberikan informasi kepada badan intelijen Australia tanpa mengorbankan integritas profesional mereka.

Apa yang didapat dari cerita ini?

Waspadalah Indonesia. Negara bisa jadi bersahabat, namun agen agen intelejen selalu mencari cara untuk mencari tahu dan mempengaruhi kehidupan politik negara lain, negara sahabat sekalipun.

Pertanyaan yang selalu menggelitik diriku ketika membaca kisah kisah intelejen adalah .. mengapa tidak pernah terdengar berita sekalipun selama puluhan tahun aparat penegak hukum yang berwenang di Indonesia berhasil mendeteksi , menangkap atau mempersona non gratakan mata mata negara asing yang berkeliaran di Republik ini?

Padahal cepet sekali tanggapannya ketika mendeteksi rakyatnya sendiri…apa minder?

Sekian

Adi Ketu

Sumber:
Seperti yang diceritakan oleh jurnalis senior Australian Review Aaron Patrick berjudul Was the ABC’s Greatest Foreign Correspondent a Spy? yang dimuat di
https://www.afr.com/…/was-the-abc-s-greatest-foreign…

  1. Journalists can help spy agencies: intelligence veteran by Aaron Patrick
    https://www.afr.com/…/journalists-can-help-spy-agencies…
  2. Vale Peter Barnett,one of the ABC’s most distuingised foreign correspondents
    https://about.abc.net.au/…/vale-peter-barnett-one-of…/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.