Belajar dari Pak Dillon: Sang Pejuang Nasib Petani dan Pertanian Indonesia Hingga Nafas Terakhirnya..

HS Dillon bukan pribumi asli Indonesia. Dia keturunan India. Namun siapa yang ragukan cintanya pada merah putih dan garuda melekat erat di dadanya hingga nafas terakhirnya?

Lahir di Medan, 23 April 1945, sebagai bungsu dari tujuh bersaudara putra-putri pasangan Partap Singh dan Dhan Kaur, Dillon mendapat kasih sayang dan harta berlimpah.

Ayahnya adalah pengusaha pertanian terkemuka di Sumatera Utara. Sejak kecil, dia sering diajak ayahnya berkeliling melihat-lihat suasana perkebunan.

Dillon kecil bertemu realitas bahwa nasib petani sangat memprihatinkan. Ia menyaksikan pergulatan hidup para petani, orang desa, dan buruh perkebunan dalam mengarungi hidup.

Ia melihat buruh perkebunan Sumatera Utara tetap menderita meski sudah bekerja habis- habisan.
Sebaliknya, para administratur dan elite perkebunan berfoya-foya. “Sejak itu, saya sudah bertekad untuk punya ilmu yang bisa membantu mereka.

Kita tidak mungkin menjadi bangsa yang kuat selama masyarakat pedesaan kita masih lemah,” katanya.

Empati itu tertanam terus sampai dia dewasa. Ketika ayahnya berharap dia meneruskan sekolah ke kedokteran, Dillon lebih memilih Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pilihan ini membuat dia membelot dari tradisi keluarga yang turun-temurun berkecimpung di pentas bisnis.

Ia total terjun ke bidang pertanian sebagai jalan hidup. Pada 1974, Dillon, yang sejak berusia lima tahun sudah bersorban, hijrah ke ke Bogor, meneruskan studi di Institut Pertanian Bogor.

Dia kemudian berkarier di Departemen Pertanian. Pada 1983, Dillon meraih doktor ekonomi pertanian di Cornell University, Ithaca, New York. Disertasinya, Growth with Equity: the Case of the North Sumatera Smallholder Development Project, diilhami pergulatannya dengan petani di kampungnya.

Di Cornell, namanya populer. Sebab, dialah orang Asia pertama yang berhasil memenangkan pemilihan “President Graduate Students of Agriculture Economics” di Cornell University.

Dillon memang aktivis. Ketika Gerakan 30 September pecah, bersama kawan-kawannya di Medan – antara lain mantan Menteri Tenaga Kerja Bomer Pasaribu- Dillon mendirikan Komando Aksi Mahasiswa Progresif Revolusioner Ganyang G- 30-S/PKI.
Organisasi ini berdiri sebelum Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia.

Dillon makin leluasa melemparkan gagasannya untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian melalui pembangunan agroindustri, ketika diangkat sebagai staf ahli Menteri Pertanian, 1993. PTP Agrintara, yang bergerak di bidang agroindustri, lahir berkat idenya.

Dillon juga pernah menjadi tokoh penggerak pemuda sebagai salah seorang Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia, tahun 1988.
Dia lalu mendirikan Centre for Agricultural Policy Studies (CAPS), setelah keluar sebagai tenaga ahli utama di Departmen Pertanian th 1994.

Aktivitasnya tidak berhenti. Apalagi ketika ditawari menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Perjuangan yang nyata untuk memperjuangkan nasib petani yang diperkosa hak haknya.

Di luar Komnas HAM, pekerjaan lain menumpuk. Antara lain sebagai anggota Dewan Ekonomi Nasional dan Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dia juga pernah diangkat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (BKPK) th 2001, institusi baru yang dibentuk pemerintah untuk mengoordinasikan segala usaha pengentasan kemiskinan.

Program BKPK ini dimaksudkan , untuk mengentaskan kemiskinan jangka panjang. Konsep dan program BKPK ini yang berbeda dengan Jaring Pengaman Sosial yang sifatnya jangka pendek.

BKPK mengupayakan dan menstimulasi kondisi secara sistemik agar masyarakat yang kurang beruntung masih mendapatkan ruang hidup dan kesempatan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sekarang masih adakah ? entah..

Pekerjaannya memang mengurus orang miskin, namun tidak berarti harus berpenampilan miskin. Gaya hidup Dillon sejak kecil sudah mewah. Ia selalu perlente dan wangi. Di kiri-kanan jari tangannya ada cincin permata. Penyuka empat warna serban -merah, biru, hitam, dan kelabu dengan penampilan mewah tak membuatnya kehilangan kepekaan terhadap nasib petani.

Tak segan mengkritik pemerintahan bila tak sesuai dengan perjuangannya membela petani kecil Indonesia. Menurutnya petani belum bisa menikmati harga hasil pertanian yang wajar.

Seperti juga kritikan beliau pada jaman pemerintahan Gus Dur misalnya, yang anggap pemerintahan Gus Dur malah manjakan konglomerat.

Menurut dia, pemerintah harus mengubah orientasi untuk mengarahkan anggaran pendapatan dan belanja negara betul-betul guna meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil, khususnya petani

Dengan lantang Dillon mengungkapkan seharusnya seluruh kebijaksaan yang kita susun, apa pun teknologi yang kita pilih, didasarkan pada kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

Menurut Dillon, di antara semua sektor ekonomi, kandungan impor agroindustri relatif kecil.

Sebaliknya, potensi ekspornya besar dan sangat cerah. Investasi agroindustri juga punya dampak berlipat.

Pertama, akan mendorong pertumbuhan yang lebih merata karena sifatnya yang padat karya.

Kedua, akan mengurangi ketergantungan pada impor pangan.

Ketiga, meraih devisa dalam jumlah yang lebih besar.

Bagaimana kondisi ini sepuluh tahun terakhir ?

Dilon memang sudah meninggal setahun lalu, dengan simpati dan salut dari masyarakat petani dan republic ini, dua bintang jasa utama memang layak diterimanya atas perjuangannya untuk kemajuan Indonesia. Bukan karena kebaikan seperti obral bintang jasa kepada teman dan rekan seperti yg dilakukan rezim terkini beberapa waktu lalu.

Apakah semangat Dillon masih ada sekarang ? dimana kondisi agroekonomi berbalik .. impor bahan pangan merebak,isi perut rakyat lebih banyak barang impor daripada lokal. Indeks nilai tukar petani menjadi makin kecil sehingga menjadi petani adalah pilihan rugi di beberapa wilayah Indonesia. Dimana negara ? entah…

Selamat Jalan Pak Dillon. Hanya Dia yang tahu betapa dirimu telah menorehkan tinta emas sejaranh Republik ini, dan ini semoga menjadi pencerah jalanmu di nirwana.

Semoga semangat Pak Dillon tetap menjadi obor pemandu semangat para petani para pemerhati, dan para pemangku kepentingan petani sekarang dan masa depan.
Kalo bukan kita sendiri yang mau mengubah nya siapa lagi ? mana ada bangsa lain berbaik hati pikirkan nasib petani Indonesia? Apakah masih ada tempat yang layak untuk meningkatkan taraf hidup petani dan agroekonomi Indonesia?
Sekian.

Adi Ketu

Referensi : berbagai sumber

lihat juga :

https://web.facebook.com/adi.ketu.3/posts/10212898650215570

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.