Kerja Rodi Uyghur: Peluru Murah China Dalam Perang Ekonomi Demi Menangkan Geoekonomi Sandang Dunia dan Indonesia

Bila sebuah negara melakukan represi kepada pada rakyatnya sendiri seperti represi China kepada suku Uyghur di Xinjiang, lepas dari ras dan agama, walau masih banyak perdebatan, ini masih masalah dalam negeri China sendiri.

Tapi ketika bahan baku dan hasil produksi nya kemudian dipakai sebagai peluru sekali pakai dalam perang ekonomi bidang sandang dan menghancurkan produksi tekstil dan garmen dalam negeri Indonesia dan dunia lain, dengan harga banting China.

Ini baru masalah…

Dengan tekstil dan garmen murah, olahan dari bahan baku kapas hasil kerja rodi 1,5 juta rakyat Uyghur di Xinjiang, China masuk ke Indonesia. Masuknya barang impor sandang China ini menghantam dengan keras produsen sandang di Indonesia.

Satu demi satu produsen tekstil dan garmen Indonesia tumbang akibat serbuan ini, ada yang tutup atau sekedar bertahan hidup. Karyawan pabrik di PHK gara gara omset pabrik menurun dan tak mampu membayar gaji buruh dan karyawannya.

Ini juga yang ingin kutanyakan mengapa pembuat kebijakan Indonesia membiarkannya dengan membuka kran impor tekstil dan garmen China masuk Indonesia dan mematikan industri tekstil, border dan garmen lokal?

Argumen yang dikemukakakan bagi para pembela liberalisasi pasar dengan membiarkan kran impor ini adalah, agar para produsen bisa bersaing di dalam negeri.

Pertanyaan: Bagaimana bisa bersaing dengan buruh sistem kerja paksa yang dibayar dengan upah tak manusiawi?

Apakah kemudian pernyataan ini dimaksudkan agar buruh di Indonesia untuk kerja rodi pula?

Sebagai fakta bahwa Xinjiang adalah produsen 85% kapas dala negeri China. Dan China saat ini mensuply 20% bahan baku kapas dunia. Kapas ini sebagian hasil dari kerja rodi Uyghur di Xinjiang. Ini salah satu yang dilakukan China dalam upaya memenangkan pertarungan geoekonomi dunia di bidang sandang.

Indonesia pernah mengalami kerasnya masa romusha Jepang atau kolonial Belanda. Betapa keji mereka pada saat itu.

Sekarang kain dan pakaian yang diimpor dari China, bau darah, tangis dan nyawa Uyghur di Xin Jiang. Haruskah kita tidak peduli?

Inilah sebab mengapa tak perlu jadi muslim agar peduli nasib Uyghur.

Anehnya, berbagai pihak bahkan ada ormas besar keagaaman yang membela mati matian bahwa China tidak lakukan represi kepada suku Uyghur di Xinjiang. Abaikan fakta yang terjadi di sana.

Padahal pengabaian fakta yang terjadi di Xinjiang ini sudah dan akan terus melemahkan kekuatan ekonomi Indonesia di bidang sandang.

Adi Ketu

Referensi:

China tainted cotton
https://www.bbc.co.uk/…/nz0g306v8c/china-tainted-cotton

Coercive Labour in Xinjiang
https://cgpolicy.org/…/coercive-labor-in-xinjiang…/

https://www.bbc.co.uk/…/resou…/idt-sh/China_hidden_camps

INSIDE CHINA’S INTERNMENT CAMPS: TEAR GAS, TASERS AND TEXTBOOKS
https://www.afp.com/…/inside-chinas-internment-camps…

Employment and Labor Rights in Xinjiang, The State Council Information Office of the People’s Republic of China, 2020
http://www.xinhuanet.com/english/2020-09/17/c_139373591.htm

Beyond the Camps: Beijing’s Long-Term Scheme of Coercive Labor, Poverty Alleviation and Social Control in Xinjiang
Posted on December 10, 2019 by Adrian Zenz
Journal of Political Risk, Vol. 7, No. 12, December 2019
https://www.jpolrisk.com/beyond-the-camps-beijings-long…/

Foto: bbc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.